Kamis, 14 Februari 2013
a story about "sepik"
ah sutralah, blog saya inih. terserah saya mau nulis apaan.
tapi jujur memang saya lagi rada 'terganggu' dengan kelakuan seseorang setelah tadi gak sengaja baca temnlen sosmed-nya. he seemed to be desperately finding a mate. tapi trus jatohnya malah jadi tebar pesona sana-sini via sosmed. sampai akhirnya saya mikir, kira-kira tujuannya apa ya nyepik cewek kesana kemari tanpa fokus yang jelas?? eniwei, saya pake istilah "nyepik" setelah dijelasin definisinya sama si baba. yah biar rada gaol gitu lah, emak-emak gahol duaributigabelas ceritanyah, muahahaha...
well, saya mencoba melihat dari sudut pandang saya sebagai perempuan aja sih. so, mari kita posisikan saya sebagai salah satu "korban" sepikan orang tersebut.
saya rasa orang ini lagi pedekate sama saya. sapaan manis (via sosmed) di pagi hari, siang hari, sore hari, hingga malam hari menjelang tidur. mungkin sebagian cewek (entah sebagian besar atau kecil) ada yang kurang sensitif kalo lagi di-pedekate-in sama cowok, tapi sebagian yang lainnya tentu bisa ngerasa. output-nya gak selalu ge-er lho ya, malah justru ada yang ngerasa gak nyaman terutama kalo di-pedekate-in dengan oleh seseorang yang sama sekali gak dikenal sebelumnya. saya pribadi termasuk tipe yang kedua (dan mungkin itu sebabnya saya kemudian nikah sama temen sekelas masa kuliah sarjana, ahahahahhh...). lagian aneh aja gitu kalo baru kenal trus langsung gombal gembel ala ababil, komentar saya palingan cuman "apadeeeeh ini orang. zzzzz...." atau "dih, gering meureun jelema teh". at the first attempt saya bakal ngerasa sedikit ge-er. sedikiiiiittt aja. mungkin karena tergolong orang yang jarang nerima pujian. tapi trus kan saya pasti lanjut nyari tau info-info tentang orang yang kayaknya lagi pedekate sama saya inih. nah, berhubung baru kenal, tentu saya gak bisa cari tau info tentang dia melalui orang lain dong. opsinya apa? ya otomatis saya bakal men-stalker dia via sosmed! rasional kan?? hare gene geto lohh... kadang-kadang, karakter seseorang bisa kebaca lewat cara dia berekspresi di sosmed.
dan , tararaaaaa.... later i found that he's such an active socmed user!
tapi setelah stalking again and again, saya mulai ngerasa ada yang salah sama ini orang. ternyata gombal gembelnya gak ke saya doang! rasanya kok gak nyaman ya ngeliat isi temlen seseorang yang saya pikir lagi pedekate sama saya tapi juga terlihat lagi pedekate dengan beberapa cewek laen, ALL in a time. hingga pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa ini orang emang GAK NIAT dan GAK SERIUS sama saya. yaudah sih, saya juga ogah dah kalo gitu mah. ELO. GUE. END. yudadah yubabai.
apa ada yang gak logis dari cara berpikir saya?
lalu tujuan saya nulis ini apa sih? usil amat ngurusin idup orang laen, kayak kurang masalah aja *ngutip kata-kata uli*
as previously mentioned, saya semacam yakin orang ini gak bakal denger celoteh protes saya kalo dia terus-terusan berbuat kayak gitu hanya supaya bisa dapet pacar. tapi aseli gengges banget. gregetan rasanya. saya rasa, tipikal orang kayak gini bakal nyadar kalo udah ngalamin sendiri buah dari perbuatannya. apa bentuk buahnya, saya juga gak tau. mungkin kalo nanti dapet kesempatan ngobrol banyak, saya tetep bakal bilang apa yang saya rasain tentang dia dan kelakuannya itu. how irritating it can be. tapi untuk bisa bikin dia insyaf beneran, let's just sit back and watch how this story will continue...
Jumat, 22 Januari 2010
impian sederhana
tapi sore ini saya ingat lagi mimpi 'kecil' itu, beberapa saat setelah bertukar cerita dengan seorang kawan yang sedang merintis bisnis di kota hujan ini.
ternyata baru saya sadari, mimpi itu perlahan memudar, terganti dengan cita-cita besar saya menjadi seorang ilmuwan oseanografi biologi.
mimpi tentang sebuah kedai kopi mungil di tepi jalan.
kecil saja, dengan kanopi di atas pintu, teras yang memuat empat meja bundar dan tiga kursi di setiap mejanya, bebungaan rimbun di pagar rendah di depan kedai, dan lonceng mungil yang berbunyi "ting-tong" setiap ada tamu masuk.
hanya ada menu kopi, pastry, dan buku. beberapa rak penuh buku koleksi pribadi sang pemilik (dalam ini tentunya saya) tidak hanya menjadi dekorasi, tapi juga referensi, bahan diskusi sekaligus kontemplasi para pelanggan.
dan musik jazz lembut.
saya tidak berbakat menjadi barista, tapi saya yakin suatu saat saya bisa mempekerjakan satu atau dua orang barista di kedai kopi saya itu. jika satu, maka dia harus perempuan, atau jika dua orang, maka mereka adalah pasangan suami istri.
saya tidak tahu persis kapan mimpi saya ini bisa terwujud. bagi saya, kedai kopi yang ada dalam mimpi itu bukanlah sebuah tempat dimana saya menggantungkan kebutuhan finansial hidup. kedai kopi itu hanyalah sebuah rangkuman dari semua jejak yang pernah saya ukir, kerja keras yang telah saya upayakan, dan pencapaian demi pencapaian yang berhasil saya raih. karenanya, saya hanya bisa tahu bahwa jika kelak kedai kopi itu terwujud, maka berarti saat itulah saya mulai merasa cukup dengan apa yang saya peroleh. saat dimana saya bisa melihat bunga dan buah dari apa yang saya tanam. atau saya lebih suka menyingkatnya dengan saat dimana saya hanya tinggal menikmati.
saya tiba-tiba tersadar, TUHAN telah memberikan begitu banyak kelapangan bagi saya untuk tidak takut bermimpi...dan terus punya mimpi...

*gambar diambil tanpa permisi dari sini
**sekian juta terimakasih untuk welly, we do like coffee so much, don't we? one time i'd very pleased to invite you to my (our) own little coffee shop :)
Sabtu, 11 Juli 2009
just a good friend....can we??

*picture taken from here
Rabu, 24 Juni 2009
saksikanlah bahwa aku bahagia
Dalam setiap detak nafas yang kuhirup-hembuskan
Dalam setiap langkah yang kuayun-hentakkan
Dalam setiap kata yang kukunyah-ludahkan
Dalam setiap ramai cerca yang mampir di telinga
Aku ingin selalu merasa bahagia, Tuhan
Dalam setiap hening pagi yang khidmat
Dalam setiap syahdu selimut senja berwarna lembayung
Dalam setiap kering angin musim kemarau
Dalam setiap gigil tulang yang diterpa kristal salju
Dan aku akan berusaha untuk terus bahagia, Tuhan
Bersama setiap harap yang terucap sayup-sayup
Bersama setiap mimpi yang membumbung tinggi di langit penuh bintang
Bersama setiap deras derai tawa seribu sahabat
Bersama setiap airmata yang mengiringi jutaan peristiwa
Karena aku yakin, Tuhan
Kau menciptakan aku agar aku selalu bahagia…
sujud syukur atas segala anugerah kebahagiaan yang Kau kirim untukku, Tuhan…aku SANGAT bahagia
Sabtu, 20 Juni 2009
tentang ikatan hati
sungguh hidup tak selamanya mudah
meski jujur saja, berat bagi saya untuk mengatakan bahwa hidup itu sulit
mudah atau sulit, tergantung cara kita memandang hidup itu sendiri kan?
tapi tak bisa dipungkiri, yang namanya masa sulit itu pasti pernah hadir dalam hidup saya
menyapa entah sekali, dua kali, atau bahkan ratusan kali. berganti-ganti.
bersyukur, masih selalu ada keyakinan bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya
teringat pesan pendek dari seorang adik, bertahun-tahun yang lalu:
selama masih ada semangat dan keyakinan tersisa (meskipun sedikit) percayalah
bahwa everything’s gonna be okay , cheer up sist!^^
dan airmata-nyaris-putus asa yang sempat menetes itupun akhirnya mengering,
berganti harapan baru, harapan akan jalan keluar baru.
Bukankah Allah memberi pertolongan dari arah yang tidak kita duga??
dan doa itu, yang selalu meyakinkan saya bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini
Bila Allah sudah berkehendak, tak ada yang tak bisa
doa yang membuat saya yakin
bahwa Allah saja-lah yang menggenggam dan mengendalikan hati setiap manusia:
saat kita mulai tak yakin bahwa kita akan sanggup menghadapi orang lain,
atau lingkungan yang benar-benar asing bagi kita,
yakinlah bahwa Allah ada bersama kita
Allah yang mengendalikan hati kita,
maka Allah juga yang mengendalikan hati orang yang kita hadapi
tak perlu takut, dan segera usir saja kecemasan itu
Allah yang akan bantu kita “menaklukkan” mereka
Allah yang akan melembutkan hati mereka
Allah yang akan mengikatkan hati kita dan mereka
Karena doa itu, adalah doa pengikat hati. doa rabithah.
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui
bahwa hati-hati ini telah
berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya pada-Mu,
bertemu untuk taat
kepada-Mu,
bersatu dalam rangka menyeru (dakwah) di jalan-Mu,
dan berjanji
setia untuk membela syariat-Mu,
maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya
Allah
abadikanlah kasih sayangnya,
tunjukkanlah jalannya,
dan penuhilah
dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah redup,
lapangkanlah dadanya dengan
limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada-Mu,
hidupkanlah dengan
ma'rifah-Mu,
dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya
Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
dan semoga shalawat
serta salam selalu tercurah kepada Muhammad,
kepada keluarganya, dan semua
sahabatnya
karena siapapun dia,
apapun agamanya *bahkan jika ia tidak beragama*
seberapapun usianya,
sebanyak apapun hartanya,
sejauh apapun jaraknya dari kita,
setinggi apapun jabatannya,
se-asing apapun bahasa yang ia gunakan,
sekeras apapun karakternya,
segarang apapun wajahnya,
se-sensitif apapun perasaannya,
bahkan meski kita tidak mengenalnya sedikitpun…
selalu yakin bahwa TAK ADA SATUPUN makhluk yang terlepas dari penguasaan Allah
tak ada satupun GERAK yang tidak Allah lihat
tak ada satupun KATA yang tidak Allah dengar *meski tidak terucap sekalipun*,
dan tak ada satupun HATI yang tidak Allah ketahui isinya
jadi mengapa harus ragu lagi?
mulai bisikkan doa itu sembari membayangkan wajah-wajah orang yang ingin kita dekati hatinya
Allah MAHA Mendengar, bukan?
Semoga bermanfaat ^^
*special thanks to Lisma Safitri: sms-mu itu, yang datang disaat saya letih dan nyaris menyerah dengan segala keruwetan skripsi, sungguh tak akan pernah bisa saya lupakan. peluk sayang…
Kamis, 18 Juni 2009
menjelang shubuh
detik-detik menjelang shubuh yang nampaknya sayang banget untuk dilewati dengan tidur. ah iya, kenapa gak dari dulu aja kayak gini ya? bangun sebelum shubuhnya sih udah lumayan bisa, tapi dipikir-pikir malah gak produktif aja kalo langsung tidur lagi. nanggung pula, ntar shubuhnya malah jadi telat. wokeh wokeh, besok-besok kita coba lagi untuk terapi menulis blog sebagai ganti tidur menjelang adzan shubuh, hehehehe...
trus nulis apa dong? hmmm.... apa ya?? oh tentang nonton film Garuda di Dadaku aja kali ya. jam tujuh malem tadi, bareng uli, fahmi, irvan, dan vina, akhirnya saya bisa juga nonton tayang perdana film itu di xxi botani square. pengalaman pertama nonton film tayang perdana. ngerti gak maksudnya? hehehe...iya, selama ini saya belom pernah tuh nonton film di awal pemutarannya di bioskop. sebenernya hari ini juga gak begitu direncanakan. berdasarkan hasil chatting YM sekaligus perenungan mendalam akan kesuraman hari saya jika saya tidak menonton film itu *preett, ngemeng apaan sih gw?* akhirnya saya memutuskan nonton. intinya sih, refreshing! bener-bener saya butuh hiburan *selain butuh tidur tentunya* setelah sehari semalam berjibaku dengan laporan akhir proyek indramayu ituh. fyuuuhhh....terhitung sejak rabu malam kamis lalu *sekitar jam 10 malem kayaknya* saya mulai menyalakan komputer, dan baru saya matikan jam setengah empat sore tadi. yaaa emang kerjanya juga disambi chatting plus fesbukan siy, abis kalo gak gitu malah jadi ngantuk-ngantuk mulu kerjanya. beruntung saya punya beberapa teman yang emang bakat "ngalong", jadi meskipun saya kerja sampe jam tiga pagi, masih ada teman yang bisa diajak ngobrol lewat YM atau fesbuk. mudah-mudahan itu beneran mereka ya, bukan yang laen...*hiyaaaahh...sok brani bener lu yas*
dan laporan itu, hingga detik ini, belum juga selesai. ah duduuuuuulll...! saya merasa ini bukan salah saya lho. saya udah bilang sama si mbak translator, deadline-nya hari rabu karena mau saya kirim ke bangkok hari kamis. saya kan juga butuh waktu untuk edit dan layout laporan ituh. eeeehh, lha kok malah si embak-nya sampe sekarang masih belom ngirim hasil terjemahannya. ya satu bab lagi sih, tapi kan tetep aja butuh waktu. duh mudah-mudahan pagi nanti saya bisa konsentrasi penuh untuk menyelesaikan laporan itu. bikin repot aja mbaaaaak, mbak.....
wheww...adzan shubuh berkumandang sudah. siyap-siyap sholat dan tilawah sedikit. eh iya, satu hal yang belum saya ceritakan tentang nonton tadi adalah: kita kebagian duduk paling depan!!! whoaaaaaaaaaa....keluar studio kepala jadi pusing dan mata juling stadium awal. fahmi kayaknya puas banget ngeledekin saya kena karma gara-gara dulu pernah protes sama dia pas nonton night at the museum dan kebagian kursi deret kedua dari depan. ahahahahahhh...maafkan saya ya kawan-kawan. protes aja tuh sama anak-anak diploma 43 yang ngeblok tempat se-alaihim gambreng banyaknya. nonton massal buuuu....
ya sutralah, demikian postingan saya hari ini. semoga besok-besok masih diizinkan Allah bangun lebih awal dan tidak tergoda untuk tidur lagi. selamat hari jumat!
*hugs*
Sabtu, 06 Juni 2009
post-marriage friendship
aaahhh…kenapa tiba-tiba ngomongin ini ya? padahal awalnya cuman mau say thanks buat sahabat saya paling juara se-jagat dunia, khususnya hari ini: haris rohim muharam. atas kebaikannya menemani saya roadshow kondangan di bandung, nyupirin mobil tanpa stuntman (nyetir mobil di bandung pas wikend tu sama aja nyari perkara, bikin encok!), sampai harus bersabar menahan lapar (baru makan siang jam 3 sore). aselinya gak tega liat dia nguap-nguap kecapekan pas perjalanan pulang, tapi apa daya saya gak bisa gantiin dia nyetir mobil karena emang saya gak bisa nyetir. tambahan lagi, dengan statusnya yang engaged, rasanya makin gimanaaaaa….gitu. meski tunangannya ada di kota lain, saya tetap terheran-heran dengan kecuekan dia yang masih mau jalan sama saya. kita emang udah temenan lama banget, dari kelas satu smp. dan diantara banyak sahabat saya yang lain, dia adalah salah satu yang bertahan tidak berubah sikap sedikitpun meski statusnya sendiri sudah berubah, bukan lagi “milik umum”, ya seperti saya ini, hehehehe…
well, jujur aja, hal-hal”sepele” semacam itu ternyata masuk juga ke pikiran saya. tentang hubungan pertemanan pasca berkeluarga. hadooooohhh…rasanya kok males ya membahas topik ini? seperti ada yang nyelekit di hati. kayak ada yang nyubit-nyubit kecil punggung tangan saya. pernah dicubit-cubit kecil? itu istilah saya untuk cubitan yang dilakukan dengan ujung jari atau kuku. meskipun yang dicubit juga cuman seujung kulit, tapi rasanya kan pedih-pedih nyelekit. ya begitulah rasanya bagi saya saat memikirkan “masa depan” suatu hubungan pertemanan pasca menikah/berkeluarga. nyelekiiiiiiittt….
adalah beberapa teman saya yang akhirnya memutuskan untuk menikahi sesama teman main. sesama teman ngumpul-ngumpul sejak sekolah menengah dulu. buat saya sih rada aneh, teman dekat kok bisa ya jadi pasangan suami istri? soalnya hal-hal seperti itu, meski pernah sempat terlintas di benak saya, saya berharap tidak akan mengalaminya sendiri. rasanya kok aneh aja kalau harus menikahi teman yang dengannya kita pernah saling ledek, saling hina, saling jambak, saling jitak, dan saling tau kejelekan masing-masing, tiba-tiba harus jadi teman tidur kita sehari-hari. gyaaaaaaaaaaahh…stop, stop! jangan diteruskan lagi ah, bergidik saya ngebayanginnya, heuheuheu… tapi tentunya saya juga gak mau bahas ini. terlalu relatif. setiap orang pasti punya persepsi dan definisi sendiri, sejauh mana sahabat bisa jadi pasangan hidup, dan sejauh mana hal itu tidak berlaku bagi mereka dan bagi saya. let’s skip this section.
adalah kemudian beberapa teman saya lainnya (dan yang ini jumlahnya mayoritas) yang menemukan pasangan hidupnya diluar teman main sehari-hari. ah ya, sebelum lebih jauh, saya batasi saja definisi “teman main sehari-hari”. karena bagi saya pribadi yang namanya teman main sehari-hari kebanyakan merujuk pada teman sma dan kuliah. bagi saya, dari dua lingkungan inilah saya paling banyak mendapatkan teman yang akhirnya saya nobatkan menjadi sahabat. lebih dari sekedar teman. nah, sebagian besar sahabat saya yang sudah menikah, menikah dengan orang yang tidak saya kenal sebelumnya, or at least, tidak terlalu saya kenal. jujur saya bahagiaaaaaaaa…banget setiap ada teman saya yang menikah, terutama jika bisa menyaksikan mereka berikrar pada saat akad nikah. rasanya lega dan bangga bisa mengiringi mereka memasuki babak baru kehidupan. Saya pernah sempat menangis di akad nikah salah seorang sahabat saking terharunya. tapi ternyata kemudian keharuan itu tidak lama bertahan. beberapa minggu atau bulan berselang, mulai muncul kangen. kangen karena komunikasi tidak berjalan se-intens dulu. ada yang pindah kota karena mengikuti pasangannya, sehingga kami (saya dan sahabat saya) tidak lagi bisa sering bertemu (komunikasi via telepon? yah, bagaimanapun gak akan ada yang bisa mengalahkan komunikasi tatap muka kan?). ada yang tetap tinggal di kota yang sama dengan saya, tapi tetap saja tidak se-available sebelumnya. gak bisa lagi leluasa hang-out bareng karena bagaimanapun mereka harus mempertimbangkan izin dan kepentingan keluarganya. fyyuuuhh...saat-saat inilah yang membuat saya kadang menyesal, kenapa gak saya aja sih yang nikah duluan, jadi kan bukan saya yang merasa “ditinggalkan” oleh mereka, tapi sebaliknya! hahahahahah.... cukup, cukup. lagi-lagi out of topic deh :D
yah, tapi memang seperti itulah adanya. ternyata rasa “kehilangan” itu nyata. dan saya tidak berdaya apa-apa dibuatnya. saya hanya bisa sadar, bahwa perubahan itu niscaya. kehidupan seseorang berjalan dan berubah untuk menemukan kesempurnaannya masing-masing. pada akhirnya pasti ada yang berubah. bahkan saya sendiri sudah merasakan hal-hal seperti ini jauh sebelum saya berpikir tentang kehidupan berkeluarga. hanya karena beberapa sahabat memutuskan untuk punya pacar (sedangkan saya memilih untuk tidak pacaran karena alasan pacaran = ribet), saya kemudian merasa terabaikan. waktu-waktu dimana normalnya kami main sama-sama perlahan dirampas oleh kepentingan lain yang seolah lebih penting: pacaran. dan sekarang semuanya seolah terulang lagi. bedanya, dulu saya masih bisa protes dengan cara ngambek saat mereka mengabaikan saya karena lebih mementingkan pacar. tapi kalau hari ini saya melakukan hal yang sama karena mereka lebih mementingkan suami/istri/keluarga mereka, jelas saya gak dewasa. toh suatu saat besar kemungkinan saya akan bersikap seperti mereka juga kan? it’s only a matter of time.
tapi saya kok yakin ya, meskipun saya nanti akhirnya menikah juga (amiiiin), saya pasti akan tetap merindukan masa-masa dimana hanya saya dan sahabat-sahabat saya. our precious time. saat dimana saya tidak akan merasa canggung tertawa bersama mereka, mengobral hal-hal gila dan memalukan, dan melepaskan semua status sosial seperti pangkat/jabatan, besaran penghasilan, karakter pasangan hidup, jumlah anak, dan tetekbengek keluarga lainnya. seperti hari ini. meskipun orang yang duduk di samping saya seharian tadi sudah hampir menjadi milik orang lain, tidak ada sedikitpun perubahan sikap yang saya rasakan dari dia. saya tidak merasa diabaikan meski beberapa kali dia menelepon tunangannya di sela perjalanan. saya juga tidak merasa canggung jalan bareng seseorang yang tidak se-available saya. itulah yang sebenarnya sangaaaaaaaaatt…saya harapkan terjadi pada hubungan saya dengan semua sahabat saya pasca sebuah pernikahan. tidak ada yang berubah meski hidup masing-masing dari kami sudah berubah.
tapi apa mungkin ya?
Selasa, 02 Juni 2009
(mau nulis banyak tapi kok ngantuk ya) -- rangkuman wiken bulan mei

dingin-dingin ujang gini kayaknya enak deh minum hot lemon grass...selain di bebek bengil ubud, dijual dimana lagi ya??
