Sabtu, 14 Desember 2013

fragmen

 

ah ya, saya mungkin sedang sangat-sangat melankolis.

tapi begitulah, beberapa waktu terakhir ini, setiap saya ingat beliau, saya tidak tahan untuk tidak meneteskan air mata. segitunya saya. rasanya ada lubang yang besar dan kosong. yang belum bisa diisi oleh apapun. oleh siapapun.

ruangan beliau masih di situ. dan selalu kosong. jabatan beliau memang sudah ada yang menggantikan sebelum beliau pergi, tapi ruangan itu tak pernah ditempati oleh sang pemegang amanah yang baru. hingga setiap saya melewatinya (dan memang saya selalu melewatinya), percik rindu itu semakin deras.

dulu, setiap kali saya temukan celah terbuka di pintunya, ada energi yang menarik saya untuk sekedar mengetuk pintu dan melongok ke dalam. melihat sosoknya di balik meja. tidak selalu di balik meja, karena terkadang saya mengetuk pintu saat beliau sedang menerima konsultasi mahasiswa, atau sekedar mengobrol santai dengan kolega. dan beliau selalu menyapa saya dengan hangat. bahkan saya yang awalnya tidak punya niat apalagi bahan obrolan secara sengaja, pernah terjebak selama berjam-jam mengobrol ngalor ngidul dengan beliau.

tentu bukan obrolan yang tak berguna. bagi saya, obrolan dengan beliau selalu membawa pengetahuan baru, atau sekedar inspirasi sederhana tentang hidup. dan itu yang saya rindukan sekarang. begitu rindunya saya dengan sosok yang bisa saya ajak bicara di kampus ini. betapa sepinya hati saya.

sejujurnya tak ada keluhan spesifik yang ingin saya utarakan. tidak ada. saya merasa cukup nyaman dengan kehidupan saya saat ini di kampus. saya tak sedang berkonflik dengan siapapun. bahkan saya cukup percaya diri untuk bilang bahwa saya bisa menjalin relasi yang baik dengan setiap orang di kampus, baik itu dengan dosen yang merangkap pimpinan departemen, maupun dengan junior yang selisih umurnya sepuluh tahun dibawah saya.

dan itulah yang membuat saya bingung, seolah tak ada alasan bagi ruang kosong itu untuk muncul ke permukaan. namun kenyataannya itu yang terjadi. tiba-tiba saya merasa ingin dan perlu bicara dengan beliau. untuk alasan yang saya sendiri tidak tahu. atau mungkin karena dulu saya juga sering tiba-tiba ngobrol dengan beliau tanpa alasan yang jelas?

ya, saya akui memang hal ini hanya berlaku untuk saya dan beliau. instant conversation. bisa jadi ini yang saya rindukan dari beliau. orang yang tidak berharap banyak dari sosok lawan bicaranya. tulus. karena esensi berinteraksi baginya mungkin adalah bertukar cerita, bukan untuk menonjolkan pencapaian diri sendiri.

saya rindu. sangat rindu. rindu untuk sekedar mengetuk pintu. rindu untuk sekedar bertanya, “bapak, sedang apa?”. rindu untuk sekedar melihat sosoknya dibalik meja dan netbook berwarna biru. rindu untuk sekedar mendengar titipan pesan beliau yang disampaikan oleh orang lain saat saya tak ada, meski pesan itu hanya berbunyi, “ada yang lihat tyas gak hari ini?”, yang diutarakan karena sekedar bertanya, bukan karena ingin saya melakukan sesuatu untuknya.

saya rindu. sangat rindu.

how are you, pak?

 

 

*memutuskan untuk menulis ini setelah berpikir bahwa menulis mungkin bisa jadi terapi untuk kegalauan saya. lumayan.*

Tidak ada komentar: