Minggu, 22 Mei 2011

menunggu pemijat handal pembawa kebab

ehm. jadi ini ceritanya adalah postingan di kala encok. gak ding, saya gak setua itu. cuman pegel di punggung gara2 nyusuin sambil ceting. nah, salah sendiri juga kan? ya mumpung ada letop aja sih sebenernya. apalagi suasana rumah sepi. karena waktu-waktu sekitar isya adalah jam tidur alanna, jadi saya males nyetel tivi. biar alanna cepet tidur dan saya bisa istirahat.

ngomong-ngomong soal pegel punggung, kemaren saya juga pegel kaki lho *halahh*. imbasnya jadi males ngomong. aneh gak? aneh sih kalo kata saya mah *yey, maksa*. abis kan jadi kasian gituloh sama si suamih, berasa dicuekin gajelas. ujung-ujungnya malah saya minta tolong *eh apa nyuruh ya?* pijetin sekujur kaki. PEGEL GILAAAA! berbulan-bulan gak pernah naek sepedah, sekalinya ketemu sepedah langsung nggowes sepuluh kilo. ya emang bukan angka yang spektakuler sih, terutama bagi abang-abang tukang siomay yang kayaknya bertrayek puluhan kilo sekali jalan. tapi kan saya bukan tukang siomay ituuuuhh…diliat dari tampang aja gak bakat kok jadi tukang siomay *ini apa pula bahas2 tampang*. beberapa jam setelah sepedahan sih gak gitu kerasa pegelnya, eehh lha kok pas malem baru kerasa cenatcenutkayakbadut gak karuan. melihat tampang (sok) memelas saya, akhirnya sang suamih jatuh iba. diraihnya counterpain dari atas meja, dia buka tutupnya, lalu dia masukkan semua isi tube ke mulutnya. oke, itu ngarang. saking melasnya saya, suamih akhirnya memijit kedua kaki saya dengan tenaga tukang angon, alias pelan-pelan, ibarat takut kehilangan ternak yang lagi diangon. padahal mah ya, saya pengennya dipijet ala tukang back yang lagi nggowes becaknya di tanjakan. gak klop sih emang, tapi biarlah. yang penting romantiiiiiiiiiiieeeezzzz abiiiieeeezzzzz *okeh cukup ngalaynya*

dan sekarang gantian punggung saya yang pegel. tapi tentu bukan karena saya abis nggowes sepedah pake punggung ya. kan saya udah bilang, ini gara-gara nyusuin disambi cetingan. kursi di rumah emang ga terlalu nyaman untuk saya duduk sambil menyusui alanna. terlalu menjorok ke belakang, alias ndeghlek. saking nyendernya, saya jadi susah bangun. dan mohon diperhatikan bahwa bangun dari kursi yang senderannya terlalu ke belakang adalah bukan perkara mudah saat dibarengi dengan menggendong bayi seberat tabung gas 3 kg. catet yah, meskipun namanya tabung gas 3 kg, tapi berat totalnya kan bukan 3 kg karena yang 3 kg itu cuman isinya, belum termasuk berat tabungnya sendiri. jadi sodara-sodara, meskipun bodi alanna gak mirip sama sekali sama tabung gas, tapi rasanya berat badan dia sudah mendekati kesituh. emang keren banget ya Allah tuh, bayi dikasi ASI doang kok bisa gede juga. jama’aaaaah, ooo jama’aaaaah, alhamduu…lillaaah… *nyampirin selendang*

balik lagi ke soal pegel punggung, sayangnya kali ini saya belom bisa minta pijet sama sang suamih. dia masih di luar sana entah dimana tepatnya, dan entah kapan sampainya. katanya sih sekitar jam 10 baru akan tiba di rumah. dohh, padahal dia janji mau bawain kebab. masih sejam lagi dong saya makan kebabnya :’(

dan berarti masih sejam lagi juga saya bisa minta tolong pijetin punggung inih…

baba cepat pulaaaaaaaaaaaanngg…

kebab empang kau kutunggu

Selasa, 17 Mei 2011

orang sabar jidatnya lebar… #eh

sekarang saya tanya, siapa yang bilang jadi orang tua itu MUDAH??!!

harus saya akui, ternyata jadi orangtua itu gak mudah, mamen. hmm, jujur aja saya gak tertarik menggunakan kata “SULIT” sebagai pengganti kata “GAK MUDAH”. rasanya kok pesimis total kalo pake kata SULIT, menimbulkan kesan seolah gak ada lagi cara yang bisa ditempuh untuk mengatasi masalah yang ada. buat saya yang stok sabarnya pas-pasan ini, jadi orangtua benar-benar membuat stok sabar saya nyaris berada di bawah garis, alias nyaris habis. eh tapi ada yang bilang, kesabaran itu gak ada habisnya. lupa alasannya kenapa. dan lupa juga siapa pencetus kata-kata itu.

soal sabar ini, saya lantas teringat peristiwa bertahun-tahun silam. waktu awal masuk kuliah dan pertama kenalan sama yang namanya dunia kampus nan kejam *lebay*. ya tapi rasanya gak salah juga sih kalo saya bilang kejam, soalnya masa kuliah kan umumnya diawali dengan yang namanya OSPEK. dan gimana gak kejam kalo ternyata OSPEK di jurusan yang saya ambil berlangsung selama beberapa bulan! gak ada deh istilahnya ospek cuma satu-dua hari nginep di kampus dan didandanin aneh-aneh. memang sih, se’aneh-aneh’-nya OSPEK yang saya alami hanyalah keharusan untuk memakai baju kotak-kotak pada tiap pertemuan mingguan di kampus. lagipula, kostum kotak-kotak itu juga atas dasar kesepakatan kami satu angkatan karena para senior membebaskan pilihan kostum pada kami. pesannya hanya satu: yang penting KOMPAK.

seingat saya, OSPEK jurusan berlangsung empat bulan lamanya. selama itu pula saya dan kawan-kawan seangkatan berjibaku memadukan jadwal kuliah dengan jadwal ospek, plus tugas kuliah dengan tugas ospek. setiap minggu ada pertemuan rutin yang agendanya bisa berupa apa saja, dari mulai kuliah umum yang sifatnya formal, kerja bakti, buka puasa bersama, hingga acara-acara semigakjelas yang ternyata hanya memuat satu agenda: bentak-bentak. gawatnya, agenda penuh penderitaan ini bisa muncul kapan saja tanpa diduga. ujung-ujungnya, efek pasca kegiatan ini bisa dua macam: cuek-santai-gak peduli (karena sebelumnya udah nyiapin mental), atau stres akut sampe nangis-nangis (berasa gak punya salah tapi kok kena bentak juga). saya mengalami dua-duanya. ada satu titik dimana ‘ocehan’ para senior saya anggap angin lalu saking gak jelasnya hal yang mereka tuding pada kami, namun ada pula titik dimana kami syok dibentak sedemikian rupa, sehingga berpikir bahwa memang ada yang salah dengan diri kami. well, rasanya gak salah kalo saya merasa beruntung punya senior yang ajaib-ajaib begitu. penampilannya ajaib, ocehannya juga ajaib. salut empat jempol lah buat mereka! *eh ini gak dalam rangka menjilat ya, ospeknya kan udahan dari kapan tau, bow*

hingga akhirnya kami pernah berpikir, kapan ya derita ini akan berakhir?? ohiya, meski tadi saya sempat bilang bahwa ospek berlangsung empat bulan, sebenarnya pada saat ospeknya berlangsung, saya dan teman-teman gak pernah tau kapan ospek akan berakhir. yang kami tau, ospek akan berakhir di Pelabuhan Ratu, suatu tempat dimana semua prinsip-prinsip serta ideologi jurusan bakal diuji *kok berasa berat amat ya pake istilah ideologi?? ah sutralah pokoknya mah gitu*. nah, masalahnya adalah, kami sama sekali gak dikasitau kapan kami akan diberangkatkan ke sana. pemberitahuan hanya dilakukan selang 2-3 minggu sebelum keberangkatan, dan itu pun bisa molor setiap saat. kalo senior bilang kami belum siap berangkat, ya bakal diundur-undur terus sampe dianggap siap. sialnya, parameter SIAP itu juga gak ada aturan tertulisnya. senior anggap kami belum kompak, berarti belum siap. senior anggap mental kami masih lembek, berarti belum siap. kalo udah urusan siap-gaksiap gini kayaknya memang masalah prerogatif deh, toh pas giliran saya dan teman-teman jadi senior, kami juga gak punya batasan baku soal kesiapan ini, hehehe… emang jadi senior itu gak ada duanya lah :D.

daaaaaaan, tiba saatnya apa yang kami sebut penderitaan itu berakhir. BENAR-BENAR berakhir. karena sama sekali tak ada sisa kekejaman dan kebengisan senior yang kami temui berminggu-minggu lamanya, tak tersisa perintah sok-senior yang dulu membuat kami merasa begitu kerdil dan tidak berdaya, tak ada rasa segan saat ‘terpaksa’ berpapasan dengan senior di koridor kampus, bahkan sebagian dari kami tak lagi merasa perlu memanggil senior dengan embel-embel “mbak” dan “abang”. and know what, senior-senior itupun sama sekali gak keberatan embel-embelnya menguap begitu saja pasca ospek berakhir! buat saya yang masih rada-rada feodal ini, soal hilangnya embel-embel itu jadi satu hal yang lumayan bikin takjub. hingga bertahun-tahun kemudian, perbincangan seputar ospek masih jadi trending topic terutama saat momen reuni. bahkan diam-diam, ada yang kangen kena hukum push-up beratus ratus kali. tanpa disadari, meski dijalani dibawah tekanan, ospek membuat kami lebih sehat dan bugar karena setiap minggu tak pernah luput dari hukuman push-up. sekarang mah mana ada yang sengaja meluangkan waktu buat push-up, walhasil gak heran melihat sebagian besar teman-teman saya yang pria berperut buncit karena kurang olahraga :p.

well, bagaimanapun caranya, kesulitan dan penderitaan itu pasti ada akhirnya. dan akan sangat indah bila SABAR menemani kita mencapai titik akhir dari kesulitan tersebut. yang dulunya gak enak dan setengah mati kita ratapi, ternyata malah kita rindukan di masa sekarang. pada akhirnya kita sadar bahwa hidup memang berputar, gak selamanya di bawah dan tertindas, kadang kita diposisikan di atas untuk bisa menghargai apa yang terjadi saat kita ada di bawah. intinya maaah, menjadi apapun kita, entah itu jadi anak maupun jadi orangtua, jadi mahasiswa maupun jadi dosen, tetaplah berusaha SABAR seburuk apapun hari yang sedang dijalani. cukup berbekal satu keyakinan, bahwa hari itu toh pasti akan berakhir. paling tidak, satu kesulitan akan berakhir pula, ya kan?

*mencoba bijak*

Senin, 09 Mei 2011

bukan sekedar gaya

yep. kalopun pada akhirnya saya memutuskan beli beberapa clodi merk luar yang harganya lumayan mahal, tujuannya bukan buat gaya-gayan. toh saya juga gak yakin orang bakal merhatiin clodi merk apa yang dipake sama Alanna. kesadaran untuk changing diaper saya rasa belom banyak dimiliki oleh orang-orang di sekitar saya, yang jelas lebih sering saya temui dibandingkan mereka para pembelanja online di luar sana.

well, satu-satunya tujuan saya koleksi clodi adalah untuk sekedar membuang rasa bersalah, karena akan berkontribusi terhadap gunungan sampah di negeri ini jika Alanna terus menggunakan popok sekali pakai.

dan karena sampai tulisan ini dibuat, saya masih belom mendengar ada daur ulang popok sekali pakai. please correct me if I’m wrong…

still waiting

Rabu, 04 Mei 2011

energetic mom. will i?

itu istilah yang saya karang sendiri. baru terpikir pas lagi sholat tadi. ehiyaaaa, rasanya bisa sholat setelah sekian lama gak sholat tuh menyenangkan ya? berasa punya ‘pegangan’ dan lebih tenang. meskipun sekarang mesti sedia ‘kostum khusus sholat’ gara-gara si bocah sering melakukan manuver tak terduga: pipis atau BAB saat digendong *sigh*

well, this is gonna be a short post. berhubung si bocah lagi tidur dan saya juga sebaiknya *seperti yang disarankan buku panduan-merawat-bayi-baru* ikut tidur untuk menjaga stamina.

selesai sholat isya tadi tiba-tiba saya terpikir sambil sedikit merenung, seberapa banyak sih hal yang bisa saya lakukan dalam sehari? saya kok merasa setelah jadi ibu, waktu berjalan demikian cepat. tau-tau udah jam sembilan, tau-tau udah dzhuhur, tau-tau udah asar, tau-tau udah maghrib, eeehh… tau-tau udah jam 11 malem ajah. mama juga merasakan hal yang sama. tapi anehnya, hal itu hanya terasa saat beliau sedang di bogor, menemani saya sekaligus membantu merawat alanna. hmmm, apa iya ya sebegitu sibuknya ‘pekerjaan’ jadi ibu sampai2 waktu 24 jam terasa cepat terlewat?

di ujung perenungan singkat itu, akhirnya saya mengambil keputusan: mulai besok saya harus lebih produktif lagi memanfaatkan waktu. setelah diingat-ingat, memang rasanya sebagian besar waktu saya di rumah hanya habis untuk 2 hal: merawat alanna dan tiduran *tiduran sambil browsing, sambil chatting, dan sambil merem :p*. ya memang sih, urusan tiduran hanya bisa saya lakukan dengan leluasa pas ada mama di rumah, karena kan ada yang masakin, hehehe… tapi jujur yah, gak tau kenapa memang rasanya saya sehari-hari kayak kurang semangat gitu deh. beda sama waktu jaman kuliah dulu, seharian sanggup bergerak kesana kemari dari pagi sampe malem, dan jarang banget sakit. lah kok sekarang seharian di rumah malah bikin saya lemes yak?? padahal kalo diitung-itung, banyakan hal gak penting yang saya lakukan. duhh…

that’s why I have to be more and more energetic. banyak yang semestinya bisa saya lakukan dan banyak juga yang harus saya kurangi. wuahh, jadi kangen BERENANG! yep, berenang absolutely bikin saya bugar. tapi gimana caranya ya bisa berenang rutin lagi? sepertinya saya harus mengikuti saran mama untuk mulai melatih alanna menggunakan dot supaya saya bisa tenang meninggalkan alanna bersama pengasuh. pengalaman 2 kali minum ASIP pake sendok bikin saya gak yakin alanna cukup minum. yah, moga-moga aja dia gak bingung putting karena sedini ini udah harus kenal sama dot. saya yakin banyak orang yang kepengen selaluuuuu bersama-sama anaknya, tapi gak dosa kan kalo saya memilih untuk tetap punya aktivitas sendiri tanpa anak saya ikut serta?

sepertinya mulai besok saya mesti mulai olahraga nih :)

atau paling tidak, mengubah mindset saya bahwa saya PUNYA energi yang cukup banyak untuk melakukan banyak hal selain menyusui dan mengganti popok alanna. semoga itu cukup membantu membangun sugesti. kalo nyontek tagline iklan mah:

sure I can do

bantuin semangat ya!

kangen nyelem lagih